Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Pendekatan Ilmiyah terhadap Isra?

Ini adalah sebagian dari isi makalah yang saya sajikan dalam diskusi panel di lantai 3 Gedung Harian Fajar, yang bertemakan: "Benarkah Peristiwa Isra Mi'raj Itu Tak Ada Hubungan Dengan Iptek?" Teknologi tidak saya singgung, karena teknologi itu adalah proses yang memberikan nilai tambah pada suatu komoditi, jadi terlalu teknis-ekonomis, sehingga tidak relevan untuk mengambil tempat dalam pembahasan. Tradisi ilmu Mesir Kuno dan Sumaria yang hanya berasaskan observasi diperkembang para pakar Yunani Kuno dengan menambahkan unsur penafsiran yang logis dan sistematis terhadap hasil observasi itu. Akhirnya disempurnakan para pakar Muslim Kuno dengan menambahkan unsur ujicoba terhadap bercorak ragam hasil penafsiran observasi. Maka terbentuklah asas pendekatan ilmiyah berikut ini: 1) bersikap ragu, 2) pengamatan, 3) penafsiran, 4) ujicoba. Sikap ragu akan berakhir dengan menerima, atau menolak, tergantung hasil ujicoba teori hasil penafsiran observasi. Dapatkah dilakukan Pendeka...

Melihat Melalui Celah Pepohonan

Saya mendapatkan isteri saya sedang mengutip dari buku yang berjudul "Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP) serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal demi Pasal", halaman 216. Buku itu ditulis oleh B.Soesilo, diterbitkan oleh Politea Bogor, tahun 1981. Ia sementara sibuk menulis laporan penelitian tentang "Delik Pencurian di Kecamatan Tallo', Ujung Pandang". Seperti lazimnya hasil penelitian itu tidaklah mempunyai dampak langsung terhadap pembangunan, melainkan secara tidak langsung hasil penelitian itu ada juga gunanya untuk pembangunan. Yaitu untuk meningkatkan kualitas SDM bagi dosen-dosen untuk kenaikan golongan/jabatan akademis. Kutipan itu tujuannya untuk memberikan pengertian tentang "Delik Pencurian", yang sebagaimana lazimnya dalam suatu laporan penelitian ataupun makalah didahului dengan tinjauan pustaka untuk menjelaskan pengertian yang sebenarnya sudah jelas. Saya katakan kepadanya buat apa mengutip pendapat yang salah. Tidaklah benar kalau di...

Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka vs Karaeng Pattingalloang tentang Lima Perkara

Di zaman pemerintahan Sultan Malikussaid Raja Gowa dengan gelar anumerta Tummenanga ri Papambatuna, tersebutlah dua orang tokoh sejarah yang terkenal yaitu Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka dan Karaeng Pattingalloang. Syaikh Yusuf adalah tokoh berkaliber internasional, dengan predikat ulama dalam kwalitas sufi, ilmuwan penulis puluhan buku, pejuang yang gigih di mana saja ia berada: di Gowa, di Banten, di Ceylon (Srilangka sekarang) dan di Tanjung Pengharapan, negaranya orang Boer (petani emigran Belanda, sekarang Negara Afrika Selatan). Karaeng Pattingalloang adalah Perdana Menteri kerajaan kembar Gowa-Tallo', negarawan, politikus, ilmuwan, yang publikasi karya ilmiyahnya belumlah ditemukan hingga dewasa ini. Syahdan, inilah dialog di antara keduanya dalam Hikayat Tuanta Salamaka menurut versi Gowa, sebagaimana dituturkan oleh Allahu Yarham Haji Ahmad Makkarausu' Amansyah Daeng Ngilau'. Materi dialog itu ada lima perkara: anynyombaya saukang, appakala'biri' sukkuka gauk...

Air Mengalir Sampai Jauh

Utilitarianisme adalah suatu doktrin yang mengajarkan bahwa semua tindak tanduk mestilah bertumpu pada asas kemanfaatan. Bahwa yang asas kemanfaatan ini tidak selamanya seiring, bahkan lebih sering bertabrakan dengan Hak Asasi Manusia, itu banyak terjadi dalam pergolakan dunia. Sebelum lanjut akan ditulis sedikit catatan pinggir yang menyangkut ejaan. Yaitu huruf A dalam HAM. Sering-sering kita dengar ataupun baca ucapan ataupun tulisan yang hiperkorek: azas, adakalanya azaz, sekali-sekali ajas. Tidak percaya? Bacalah makalah, reportase, artikel, dengarlah ucapan pemakalah, peserta diskusi dan the man on the street. Itu namanya hiperkorek, keliwat korek. Dikiranya karena asas itu dari bahasa Arab, maka s itu mesti dikoreksi, menjadilah ia z. Padahal dalam bahasa Arab sendiri bukan z, melainkan terdiri atas akar kata yang dibentuk oleh huruf-huruf alif, sin, sin. Maka pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan azas, bukan pula azaz dan lebih-lebih lagi bukan ajas, melainkan as...

Taktik dan Strategi dalam Perjanjian Hudaybiyah

Pada zaman Jepang seorang serdadu Jepang membentak nakhoda perahu sambil meludahi kedua telapak tangannya: "Bagero, kunapa purahu kusituka?". Tentera Jepang kalau membentak dengan bagero disertai dengan meludahi telapak tangan itu berarti siap-siap untuk menempeleng. Ia marah besar kepada nakhoda perahu, oleh karena tujuan perahu menyimpang sekitar 45 derajat ke kiri dari arah pulau yang akan dituju, p.Jampea. Melihat gelagat tentera Jepang yang menyandang samurai itu, nakhoda perahu dengan tenang menatap mata heitai Jepang itu dengan sinar mata yang tajam dengan "pandangan berisi", yang mengandung pengaruh sirap. Hasilnya, Jepang itu tertunduk, sikapnya melemah, butir-butir keringat menyembul di keningnya. Dahulu para nakhoda perahu bukan hanya terampil melayarkan bahtera saja, melainkan harus pula menguasai ilmu "pandangan berisi" sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi nakhoda. "Tuan, kita menggergaji, kita mendapat angin sakal, bukan angin bu...